Contoh Kearifan Lokal di Wilayah Indonesia

Artikel ini Telah Ditinjau Oleh: Farkhan Ramadhan, S.E.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam budaya dan kearifan lokalnya. Lantas apa sebenarnya yang dimaksud dengan kearifan lokal?

Kearifan lokal merupakan hasil dari adanya kebudayaan dari suatu suku atau ras yang sifatnya adalah turun temurun dari generasi satu ke generasi berikutnya. Contoh kearifan lokal biasanya sangat khas dalam suatu suku masyarakat tersebut.

Indonesia sebagai negara dengan suku yang banyak maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa di Indonesia terdapat banyak sekali bentuk kearifan lokal yang tercipta.

Beberapa kearifan lokal dapat bertahan karena masyarakatnya yang masih memegang teguh adat istiadat suku tersebut. Namun beberapa kearifan lokal tidak bisa bertahan dengan baik dikarenakan banyak pengaruh budaya dari luar.

Contoh Kearifan Lokal di Indonesia

Contoh Kearifan Lokal di Indonesia
Kearifan Lokal

Jika berbicara mengenai contoh kearifan lokal yang ada di Indonesia, tentu ada banyak sekali bentuknya. Apalagi memang Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam suku budaya.

Beberapa bentuk kearifan lokal yang ada merupakan temuan pengetahuan atau pengalaman dari masyarakat dalam suatu suku yang bersangkutan.

Namun beberapa diantaranya juga merupakan bentuk dari temuan para leluhur yang diturunkan pada generasi ke generasi. Penasaran dengan contoh kearifan lokal yang ada? 

Beberapa di bawah ini bisa Anda simak dengan baik bentuk-bentuk kearifan lokal yang yang sejak dulu sudah ada di Indonesia. Diantaranya adalah :

1. Hutan Larang Adat di Riau

Di Riau terdapat peraturan yang melarang penebangan hutan secara sembarangan. Ini dimaksudkan agar masyarakat sekitar hutan dapat memanfaatkan keberadaan hutan secara bijak dan menjaganya agar dapat terus digunakan oleh anak cucu.

Apabila terdapat warga atau masyarakat yang melanggar, maka dikenai sanksi untuk memberikan beras seberat 100kg ataupun uang sebesar 6.000.000 rupiah.

2. Koko dan Tattakeng di Sulawesi Selatan

Contoh kearifan lokal selanjutnya adalah Koko dan Tattakeng. Sebelum adanya persawahan yang dikenal seperti sekarang, masyarakat To Bentong dari Minahasa, Sulawesi Selatan telah mewariskan secara turun temurun pada keluarganya untuk mengolah kebun atau sering disebut Koko, dan ladang yang sudah tak terurus atau Tattakeng.

Koko dimanfaatkan sebagai ladang yang diolah dengan cara berpindah-pindah, sedangkan Tattakaeng merupakan bekas lahan yang dihidupkan kembali. 

3. Pahomba di Nusa Tenggara Timur

Pahomba di Nusa Tenggara Timur
Pahomba

Pahomba, atau sering disebut gugus hutan, merupakan salah satu wilayah di NTT yang tidak boleh dimasuki, apalagi untuk mengambil hasil hutannya. Hal tersebut dilarang kelas dalam peraturan adat dan wajib dilaksanakan seluruh anggota.

Ini disebabkan, pohon-pohon dalam lingkup Pahomba berfungsi sebagai pohon induk untuk menyebarkan benih ke padang rumput di sekitarnya. Jika ditebangi, maka proses perluasan hutan secara alami tidak bisa dilakukan oleh sistem alam.

4. Ancak Saji di Bali

Salah satu desa di Bali, yakni Desa Trunyan memiliki contoh kearifan lokalyang tidak bisa ditemukan di tempat lain, yakni tradisi Ancak Saji. Dalam tradisi tersebut, jenazah tidak dikuburkan maupun dibakar, namun hanya dibaringkan pada permukaan tanah yang dangkal dengan cekungan panjang, yang disebut Sema Wayah.

Disana jenazah hanya dibungkus kain sebagai penutup tubuh pada saat prosesi upacara dan sekaligus memperlihatkan bagian muka dari celah bambu berbentu segitiga yang disebut Ancak Saji.

5. Sasi di Maluku

Sasi merupakan sistem pengaturan waktu bagi penduduk di sekitar wilayah Maluku dan Papua untuk mengambil hasil laut di wilayah adat masing-masing.

Sasi bertujuan agar masyarakat tidak serakah dalam mengambil hasil laut, sehingga flora dan fauna laut tetap bisa berkembang biak dengan baik. Pada sistem sasi, masyarakat hanya diperbolehkan untuk mengambil dan menangkap ikan disaat-saat tertentu saja.

6. Ladang Gilir Balik di Kalimantan Timur

Ladang Gilir Balik di Kalimantan Timur
Ladang Gilir Balik

Suku Dayak Bantian di Kalimantan Timur menggunakan sistem Ladang Gilir untuk melakukan cocok tanam. Contoh kearifan lokal ini membuat masyarakat suku Dayak Bantian memperlakukan hutan dengan bijak karena mereka bertanam dengan membuka ladang di hutan.

Setelah diolah selama dua tahun, mereka berpindah tempat dan membiarkan ladang yang lama tumbuh kembali. Setelah dua tahun, mereka kembali ke ladang tersebut ketika tumbuhan dan hewan telah berada dalam keadaan semula.

7. Awig-awig

Awig-awig merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh Lombok Barat dan Bali. Kearifan ini berisi pedoman dalam bertindak mengurus sumber daya alam dan juga lingkungan tempat mereka tinggal.

8. Tembawai

Kearifan lokal yang satu ini berasal dari Dayak Iban,  Kalimantan Barat. Kearifan ini berupa sebuah hutan khusus milik rakyat yang diolah dengan diisi tanaman-tanaman produktif. Misalnya buah-buah an dan sayuran.

9. Cingcowong

Upacara Cingcowong dari Jawa Barat
Upacara Cingcowong

Cingcowong berasal dari Jawa Barat. Kearifan lokal yang satu ini merupakan sebuah upacara dengan tujuan meminta hujan. Selain itu upacara ini juga digunakan pada saat masyarakat meminta suatu permohonan kepada Tuhan secara serentak bersama-sama.

10. Ke-kean

Kearifan lokal ini berasal dari Sumatra Selatan. Bentuk dari kearifan lokal yang satu ini adalah sebuah perhitungan dalam melakukan penanaman beberapa tumbuhan tertentu.

Kearifan lokal Ke-kean bergantung pada ilmu perbintangan yang dipegang Teguh oleh masyarakat Sumatra Barat.

11. Moposad Mududuran

Kearifan lokal yang satu ini merupakan suatu pedoman tolong menolong dalam lingkup sosial yang berasal dari Bolang Mongondow,  Sulawesi Selatan.

12. Babie

Babie merupakan bentuk kearifan lokal yang berasal dari Sumatra Selatan. Bentuk dari kearifan lokal yang satu ini adalah adanya budaya atau tradisi dalam menanam padi seara bersama-sama. Dilakukan secara bersama-sama adalah agar hasil terbaik juga bisa dirasakan secara bersamaan.

Tradisi ini nantinya akan diiringi dengan pesta syukuran jika telah tiba waktu panen dan hasil penen memiliki kualitas yang baik. Tradisi ini telah turun temurun dari generasi di jaman dulu hingga sekarang.

Beberapa contoh diatas merupakan sebagian kecil dari banyaknya kearifan lokal yang ada di Indonesia. Kearifan lokal yang diberlakukan tidak hanya untuk menjunjung nilai budaya dari suatu masyarakat. 

Akan tetapi juga memiliki nilai tujuan yang bermanfaat bagi pemegang teguh kearifan lokal tersebut.

Selain itu juga menjadi tolak ukur dari kepatuhan suatu masyarakat dalam melaksanan setiap tradisi yang telah berlaku sejak dulu kala dalam budayanya. Dan tentu saja kearifan lokal dari Indonesia tersebut tidak bisa ditemukan di negara lain.

Itulah contoh kearifan lokaldi Indonesia di beberapa wilayahnya. Kearifan-kearifan lokal tersebut umumnya memiliki peran penting untuk menjaga siklus alam tetap berjalan dengan baik dan membatas manusia untuk tidak serakah dalam mengambil hasil alam yang melimpah.

Silahkan simak informasi lebih lengkapnya di Khanfarkhan.com

Yakin Ngga Mau Komen ?